SEKILAS INFO
  • 2 bulan yang lalu / Surat Edaran Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 & Transformasi Pemulihan Ekonomi Kota Bekasi Nomor 443.1/795/SET.COVID19.
  • 2 bulan yang lalu / Maka sejak 19 Agustus 2021 Masjid Agung AL BARKAH Kota Bekasi, di BUKA untuk Jama’ah UMUM.
  • 2 bulan yang lalu / Pemerintah Kota Bekasi dan DKM Masjid Agung Al Barkah Kota Bekasi mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriah 1443H dan HUT RI ke-76.
WAKTU :

Belajar Da’wah Dari Para Nabi (1)

Terbit 17 April 2021 | Oleh : adminalbarkah | Kategori : Komunikasi Islam
Belajar Da'wah Dari Para Nabi (1)

Ditinjau dari etimologi atau bahasa, kata dakwah berasal dari bahasa arab, yang artinya mengajak, menyeru, memanggil. Warson Munawir, menyebutkan bahwa dakwah artinya adalah memanggil, mengundang, mengajak, menyeru, mendorong, dan memohon. Sedangkan secara istilah, dakwah adalah kegiatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja dengan mengerahkan segala potensi yang di miliki, baik secara individu maupun secara bersama-sama, untuk: pertama, mengajak orang pada ajaran Islam (masuk ke dalam al Islam bagi mereka yang belum menjadi muslim). Kedua, meningkatkan kualitas pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama Islam (bagi kaum muslimin) dalam seluruh tatanan kehidupan dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Sebagaimana di pertegas dalam firman Nya :

“ … dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. ali Imron:104).

Di sisi lain, yang di maksud dengan seruan/ajakan dalam dakwah fardhiyah ialah usaha seorang da’i yang berusaha lebih dekat mengenal al mad’uw untuk di tuntun ke jalan Allah. Oleh karena itu, untuk mencapai sasaran dakwah, ia harus menyertainya dan membina persaudaraan dengannya karena Allah. Dari celah-celah persaudaraan inilah ia berusaha membawa al mad’uw keimanan, ketaatan, kesatuan, komitmen, pada sistem kehidupan Islam dan adab-adabnya yang membuahkan sikap ta’awun (tolong-menolong) dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan membiasakan dirinya beramar ma‟ruf nahi munkar.

Seruan dan ajakan seperti ini memiliki dasar dan sesuai dengan tuntunan syariat Islam. firman Allah Swt : “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?” dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai Keuntungan yang besar. dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, Maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Fushilat: 33-36)

Semua nabi dan rasul bertugas memanggil, menyeru, dan mengajak manusia untuk beriman kepada Allah Swt dan menjalankan syariat agama-Nya. Dengan demikian, nabi dan rasul adalah para da’i sebab arti nabi adalah orang yang membawa dan menyampaikan informasi (wahyu) dari Allah kepada manusia, sedangkan rasul adalah orang yang menyampaikan pesan (risalah) dari Allah Swt kepada manusia.

Baik nabi maupun rasul adalah pilihan Allah, pembicaraan hakekat kenabian dan kerasulan itu dikenalkan oleh nabi dan rasul kepada umatnya pada zamannya, masing-masing sejak nabi Adam A.s hingga nabi pamungkas, nabi Muhammad Saw. Pesan utama yang disampaikan oleh para nabi dan rasul adalah menegakkan keyakinan Tauhidullah dan beribadah hanya kepada-Nya yang menjadi tugas fitri kemanusiaan sebagai khalifah dan abdi Allah di muka bumi. Disampaikan pula pesan utama tentang perjalanan hidup manusia, yaitu al mabda’ (asal kehadiran manusia), al wasath (keberadaan manusia di alam kesadaran duniawi), al ma’ad (tempat kembali mempertanggungjawabkan tugas fitri kemanu-siaan).

Adam A.s adalah nabi pertama sekaligus sebagai da’i bagi dirinya sendiri, bagi istrinya, bagi anak-anaknya dan cucu-cucunya yang kemudian menjadi komunitas manusia di muka bumi ini. ia di beri ilmu oleh Allah berupa al asma, seperti halnya Allah memberikan ilmu-Nya kepada nabi Muhammad saw berupa al Qur’an. Ketika Adam menginformasikan (Anba-a) al Asma itu kepada para malaikat yang mereka tidak mengetahui tentang al asma, lalu malaikat menyatakan pengakuannya bahwa Allah adalah al ‘alim, al hakim (yang maha mengetahui dan maha bijaksana). Nabi Adam a.s sebagai da’i menjelaskan kandungan al asma dengan menggunakan bahasa lisan dan perbuatan di hadapan mad’unya tentang pesan nubuwah dari al asma itu yang menjawab tentang persoalan al mabda, al wasath dan al ma’ad.

Setelah nabi Adam menunaikan tugas kenabiannya diteruskan oleh nabi dari nabi keturunannya yaitu nabi Idris A.s, ia adalah orang pertama kali mengenalkan bahasa tulis, astronomi, ilmu hitung, pengetahuan menjahit pakaian, melatih hewan dan cara bercocok tanam. Nama Idris ini dalam bahasa Yunani disebut “Hermes”. Tugas nubuwah dan risalah sebagai hakekat nabi dan rasul ini diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya oleh para nabi hingga para nabi terakhir yang di dalam al Qur‟an ada yang tidak diceritakan dan ada 25 nabi yang diceritakan.

Luqman al-Hakim itu hidup sejaman dengan nabi Daud A.s yang juga di beri hikmah oleh Allah. Luqman ini adalah bapak filsafat selain nabi, sebagai filosof pertama Yunani, yaitu Empedockles berguru kepada Luqmankemudian menyusul Phythagoras murid Empedockles setelah itu secara berturut-turut menyusul Socrates, Plato, Dan Aristoteles. Kelima filosof ini hidup dengan rentangan kurun waktu antara zaman nabi Dawud a.s hingga sebelum nabi Isa A.s.

Atas dasar pertimbangan rasional, bahwa nabi yang pertama mengenalkan bahasa tulis yang menyimbolkan bahasa lisan dalam menyampaikan gagasan buah pikiran (kerja akal) kepada orang lain, adalah nabi Idris, yang disebut Hermes maka jalur pemikiran hikmah (kefilsafatan) para filosof yang bukan nabi yaitu Luqman dan generasi yang berikutnya, maka menisbahkannya filosofis itu kepada Hermes, dan rentang waktu antara Hermes hingga awal hijrah nabi terakhir (perhitungan menurut Abu Ma’syar). — Bersambung.

SebelumnyaTugas Kita Sebagai Manusia SesudahnyaBelajar Da'wah Dari Para Nabi (2)

Tausiyah Lainnya