SEKILAS INFO
  • 2 bulan yang lalu / Surat Edaran Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 & Transformasi Pemulihan Ekonomi Kota Bekasi Nomor 443.1/795/SET.COVID19.
  • 2 bulan yang lalu / Maka sejak 19 Agustus 2021 Masjid Agung AL BARKAH Kota Bekasi, di BUKA untuk Jama’ah UMUM.
  • 2 bulan yang lalu / Pemerintah Kota Bekasi dan DKM Masjid Agung Al Barkah Kota Bekasi mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriah 1443H dan HUT RI ke-76.
WAKTU :

Belajar Da’wah Dari Para Nabi (2)

Terbit 17 April 2021 | Oleh : adminalbarkah | Kategori : Komunikasi Islam
Belajar Da'wah Dari Para Nabi (2)

Dakwah sudah dimulai pada zaman nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. Allah mengirimkan Rasul kepada umat manusia dan menyampaikan agama Islam sebagai agama yang benar yang memperbaiki akhlak serta akidah umat-umat terdahulu pada zamannya.

Diantara sekian banyak Nabi dan Rasul yang diutus Allah untuk berdakwah ada  7 (tujuh) nama Nabi yang disebutkan dalam al-Qur’an sebagai Nabi yang diutus Allah untuk menyampaikan amanah-Nya kepada kaumnya diantaranya : Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Soleh, Nabi Luth, Nabi Syuaib, Nabi Musa dan Nabi Isa. Para nabi membawa sejarah dakwah mereka sendiri-sendiri sebagai pelajaran bagi umat saat ini.

Pada hakikatnya agama yang dibawa oleh para rasul sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW adalah disebut agama Islam, baik agama yang dibawa Nabi Ibrahim AS, Musa AS, Daud AS, maupn Isa AS. Dan Nabi Ibrahim yang dipandangan sebagai bapak agama itu mengaku, bahwa ia adalah seorang muslim (musliman), penganut Islam. Demikianlah bahwa agama yang diakui Tuhan di atas muka bumi ini sejak dari zaman purbakala sampai akhir zaman nanti adalah hanya satu, karena Tuhan Allah sendiri adalah satu, Maha Esa pula.

Agama-agama kuno itu yang dibawa oleh Rasul sebelum Nabi Muhammad SAW diberikan oleh Tuhan ajaran-ajaran yang sesuai dengan tingkat kecerdasan mereka masing-masing kepada umat mana rasul-rasul itu diutus oleh Tuhan.  Jadi sifat agama-agama itu adalah lokal dan nasional serta terbatas kepada zaman-zaman tertentu yang sesuai dengan lingkungan dan peradaban mereka pula dan kemudian setelah terjadi penyimpangan-penyimpangan di sana-sini dari ajaran-ajaran Rasul itu semula, maka Tuhan mengutus Rasul demi Rasul yang baru untuk membetulkan kembali kesalahan-kesalahan itu.

Demikianlah keadaan itu berlaku sampai zaman Nabi Musa, Isa dan Nabi Muhammad SAW. Dan pada syari’at Nabi Muhammad lah agama itu disempurnakan sedemikian rupa sehingga agama itu mampu bertahan sampai akhir zaman tanpa mengalami perubahan lagi. Jadi sifat agama Islam yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW sesuai dengan kemajuan berfikir dan kebudayaan umat manusia, yang bersifat universal dan internasional, umum untuk semua guna buat segala bangsa dan untuk dianut sepanjang zaman. Jadi bukan hanya terbatas untuk kaum dan zaman tertentu seperti agama-agama sebelumnya.

Hal ini terbukti dengan terdapatnya perbedaan lafal bunyi firman Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW dan dihadapkan kepada nabi-nabi sebelumnya yang menjelaskan misi mereka dan caranya mereka menghadapkan dakwahnya. Perhatikanlah bunyi ayat-ayat Al-Qur’an seperti di bawah ini :

  1. Nabi Nuh AS : “Telah kami utus Nuh AS kepada kaumnya” (Al-A’raf: 59)
  2. Nabi Hud AS : “Kepada kaum ‘Aad telah kami utus Hud AS saudara mereka” (Al-A’raf: 65).
  3. Tentang Nabi Soleh AS : “Kepada kaum Tsamud telah kami utus Soleh AS saudara mereka”. Ia berkata: Hai kaumku! Sembahlah Allah tak ada Tuhan bagi kamu yang lain dari Dia.” (Al-A’raf: 73)
  4. Nabi Luth AS : “… dan (kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (ingatlah) tatkala Dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” (al A‟raaf:80)
  5. Tentang Nabi Syu’aib as : “… dan (kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu’aib. ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.” (Al-A’raf: 85).
  6. Nabi Musa as : “ …. dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?” Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (As-Shaf: 5)
  7. Nabi Isa AS : “ … dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seo-rang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata : “Ini adalah sihir yang nyata.” (As-Shaf: 6)

Dimanapun juga semua Nabi selalu mendapat perlawanan dari kaumnya yang tidak mau percaya kepada Nabi dan Rasul mereka. Dan kaum yang tidak mau beriman itu selalu dihukum oleh Allah dengan azab yang sangat berat, seperti kaum Nabi Nuh yang tidak mau percaya dihukum Allah dengan banjir besar (Q.S. Al-A’raf: 64). Kaum ‘Ad yang kafir kepada Nabi Hud dihukum oleh Alah dengan angin yang sangat mengerikan selama 7 malam 8 hari (Q.S. Adz-Dzariyat; 41-42, Q.S. Al-A’raf :72). Kaum Nabi Luth yang melakukan Homoseksual dihukum Allah dengan hujan batu (Q.S. Al-A’raf: 78). Kemudian kepada kaum Tsamud yang melawan Nabi Shalih dihukum oleh Allah, dengan gempa bumi (Q.S. Al-A’raf: 84). Serta kaum Nabi Syu’aib yang kufur kepadanya dihukum pula oleh Allah dengan azab yang berupa gempa bumi yang sangat dahsyat (Q.S. Al-A’raf: 91).

SebelumnyaBelajar Da'wah Dari Para Nabi (1) SesudahnyaHukum Menggosok Gigi dan Mencicipi Makanan Saat Berpuasa

Tausiyah Lainnya