SEKILAS INFO
  • 2 bulan yang lalu / Surat Edaran Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 & Transformasi Pemulihan Ekonomi Kota Bekasi Nomor 443.1/795/SET.COVID19.
  • 2 bulan yang lalu / Maka sejak 19 Agustus 2021 Masjid Agung AL BARKAH Kota Bekasi, di BUKA untuk Jama’ah UMUM.
  • 2 bulan yang lalu / Pemerintah Kota Bekasi dan DKM Masjid Agung Al Barkah Kota Bekasi mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriah 1443H dan HUT RI ke-76.
WAKTU :

Guru & Kualitas Pendidikan Islam (1)

Terbit 2 Mei 2021 | Oleh : Ahmad Faisal | Kategori : Pendidikan Islam
Guru & Kualitas Pendidikan Islam (1)

Pemerintah Indonesia dalam rangka meningkatkan pendidikan bagi warga negaranya tidak henti-hentinya melakukan berbagai kegiatan dan menyediakan fasilitas pendukungnya termasuk memberlakukan Undang Undang No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen. Pada pasal 1 ayat (1) undang-undang ini dinyatakan, bahwa yang dimaksud dengan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Seiring dengan peran guru di atas, maka pada Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, mengamanatkan bahwa : (1). Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan; (2). Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya; (3). Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan Undang-Undang; (4). Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% (dua puluh persen) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, serta dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggeraan pendidikan nasional; dan (5). Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Semua kondisi di atas ditujukan untuk menyukseskan tujuan pendidikan nasional, yakni :

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.[1]

Perlu dipahami, bahwa pendidikan dapat ditinjau dari dua segi, yang pertama dari sudut pandangan masyarakat, dan yang kedua dari segi pandangan individu. Dari segi pandangan masyarakat, pendidikan berarti pewarisan kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda, agar hidup masyarakat tetap berkelanjutan. Dari segi pandangan individu pendidikan berarti pengembangan potensi-potensi yang terpendam dan tersembunyi.[2]  Dalam proses pendidikan, seorang guru tidak hanya mendidik intelektualnya saja, tetapi juga harus disertai dengan proses mendidik watak (kharakter), dimana seorang yang berprestasi dalam akademik harus diimbangi oleh prestasi dalam bertingkah laku dengan lingkungannya. Di sinilah peranan guru akan dilihat sukses atau tidaknya dalam mendidik peserta didiknya.

Selanjutnya, terkait dengan peran guru tersebut maka persoalan guru merupakan persoalan yang sangat penting yang ikut menentukan maju mundurnya suatu bangsa. Guru merupakan salah satu faktor yang dominan dalam menciptakan sumber daya manusia yang bermutu. Oleh karena itu, kegagalan dalam dunia pendidikan sering dialamatkan pada guru. Pada titik inilah, guru dipandang sebagai sumber daya yang aktif dibanding komponen organisasi sekolah yang lain seperti kurikulum dan sarana prasarana. Pada saat ini nasib guru masih memprihatinkan, sementara di sisi lain guru dituntut untuk ikut memacu mencerdaskan kehidupan bangsa.[3]

Kinerja guru, yang menjadi tuntutan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, merupakan kemampuan yang dimiliki oleh individu dalam melakukan suatu pekerjaan, sehingga terlihat prestasi pekerjaannya dalam menggapai tujuan.[4]  Sedangkan kinerja guru dalam prestasi belajar mengajar adalah kesanggupan atau kecakapan guru dalam menciptakan suasana komunikasi yang edukatif antara guru dan siswa yang mencakup segi afektif, kognitif dan psikomotorik sebagai upaya mempelajari sesuatu berdasarkan perencanaan sampai dengan tahap evaluasi dan tindak lanjut agar tercapai tujuan pengajaran.[5]

Kinerja seseorang merupakan kemampuan usaha yang ditunjukkan sehingga dapat dilihat dari pikiran, sikap, dan perilakunya.  Kinerja dalam hal ini adalah kemampuan yang dimiliki oleh individu dalam melakukan suatu pekerjaan sehingga terlihat prestasi pekerjaannya dalam usaha penerapan ide dengan efektif dan efisien untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam suatu organisasi pendidikan, keterampilan dan kemampuan yang dimiliki oleh setiap guru dalam bidangnya merupakan sesuatu yang sangat diharapkan. Dengan adanya keterampilan dan kemampuan ini akan dapat mempengaruhi pula kinerja dalam lembaga pendidikan.

Salah satu faktor yang menjadi tolak ukur kinerja seorang guru adalah usahanya untuk senantiasa memiliki kesungguhan yang tinggi atau semangat yang tinggi, serta konsisten terhadap apa yang ingin dicapainya. Sesuai firman Allah Ta’ala dalam surat Ali Imran (3) : 159,  

Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.[6]

Guru yang memiliki kinerja dan kesungguhan yang tinggi itu, akan merasa percaya diri, kuat, dan berani ketika ia berusaha mencapai tujuan yang telah ditetapkannya, dengan berbekal ilmu dan kompetensi yang nyata. Sehingga, ia pun bisa menjalani berbagai tantangan yang mungkin saja menakutkan dan mampu memandang tantangan tersebut secara proporsional. Allah Ta’ala juga berfirman dalam QS. Al-Israa (17) : 19,

Artinya : Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat; dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.[7]

 Menurut Imam al-Baidhawi dalam tafsirnya menjelaskan (QS. Surat Al-Israa ayat 19, bahwa orang yang menghendaki pahala akhirat harus mengikuti ajaran Syariat agama dengan benar sesuai dengan prosedur, serta harus menjauhi larangan-Nya, bukan berdasarkan keinginan nafsunya, maka amal perbuatannya akan diterima oleh Allah dan akan mendapatkan pahala yang besar.

Sedangkan, menurut Raghib al-Asbihani menjelaskan bahwa untuk mendapatkannya pahala yang telah dijanjikan, ada empat hal yang harus dilakukan, Pertama, harus menggunakan akal fikiran yang sehat dalam memahami ajaran agama. Untuk lebih menjadi sempurna maka harus didasari dengan ilmu. Kedua, harus menjaga harga dirinya dari hal yang terlarang. Hal ini akan menjadi lebih sempurna bila didasari sifat wara’ (menjaga diri dari hal syubhat yang belum jelas hukumnya). Ketiga, adanya keberanian dalam bertindak, berbuat bukan karena paksaan atau mengejar pujian manusia. Hal ini lebih sempurna bila didasari dengan sikap mental (bersungguh-sungguh dalam melawan hawa nafsu). Keempat, harus didasari rasa keadilan tak hanya untuk diri sendiri atau orang lain, yang demikian akan lebih sempurna bila didasari insyaf (menerima kebenaran) dari berbagai sumber yang didapatkan.[8] (Berlanjut).

Ranah Pustaka :

[1]     UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional, Pasal 1 ayat (1).

[2]     Hasan Langgulung. 2009. Asas-asas Pendidikan Islam. Jakarta : Al-Husna. Hlm.3.

[3]     Donni Juni Priansah. 2014. Kinerja dan Profesionalisme Guru. Bandung : Alfabet. Hlm.35.

[4]     Hadari Nawawi. 2012. Administrasi Pendidikan. Jakarta : Illahi Masagung.  Hlm.15.

[5]     Suryosubroto B. 2012. Manajemen Pendidikan Di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta. Hlm.15.

[6]     https://quran.com/3/159, diakses pada tanggal, 10 November 2019, jam 20.11 WIB.

[7]     https://quran.com/17/19, diakses pada tanggal, 10 November 2019, jam 20.30 WIB.

[8]     https://islami.com/tafsir-surat-al-isra-ayat-19-empat-cara-mendapatkan-pahala-di-akhirat/ diakses pada tanggal, 19 Nopember 2019, jam 09.41 WIB.

SebelumnyaKonsepsi ZIS Sebagai Manifestasi Dakwah (2) SesudahnyaGuru & Kualitas Pendidikan Islam (2)

Tausiyah Lainnya