SEKILAS INFO
  • 2 bulan yang lalu / Surat Edaran Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 & Transformasi Pemulihan Ekonomi Kota Bekasi Nomor 443.1/795/SET.COVID19.
  • 2 bulan yang lalu / Maka sejak 19 Agustus 2021 Masjid Agung AL BARKAH Kota Bekasi, di BUKA untuk Jama’ah UMUM.
  • 2 bulan yang lalu / Pemerintah Kota Bekasi dan DKM Masjid Agung Al Barkah Kota Bekasi mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriah 1443H dan HUT RI ke-76.
WAKTU :

Konsepsi ZIS Sebagai Manifestasi Dakwah (1)

Terbit 1 Mei 2021 | Oleh : | Kategori : Komunikasi Islam
Konsepsi ZIS Sebagai Manifestasi Dakwah (1)

Islam sebagai al-Din Allah Swt, merupakan manhaj al-hayat atau way of life, acuan dan kerangka tata nilai kehidupan. Oleh karena itu, ketika komunitas muslim berfungsi sebagai sebuah komunitas yang ditegakkan di atas sendi-sendi moral iman, Islam dan takwa, serta dapat direalisasikan dan dipahami secara utuh dan padu, maka hal ini merupakan suatu komunitas yang tidak eksklusif karena bertindak sebagai “al-Umma al-Wasatan” yaitu sebagai teladan di tengah arus kehidupan yang serba kompleks, penuh dengan dinamika perubahan, tantangan dan pilihan-pilihan yang terkadang sangat dilematis.

Masuknya berbagai ajaran atau pemahaman yang tidak relevan dengan nilai-nilai agama menjadi tak berdaya dan yang lebih lagi ketika agama tidak lagi dijadikan sebagai pedoman hidup dalam berbagai bidang.[1] Di samping itu, kita bisa melihat pada saat ini, kehidupan umat manusia sedikit banyak, disadari atau tidak, telah dipengaruhi oleh gerakan modernisme yang terkadang membawa kepada nilai-nilai baru dan tentunya tidak sejalan, bahkan bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Islam adalah agama dakwah, artinya agama yang selalu mendorong pemeluknya untuk senantiasa aktif melakukan kegiatan dakwah. Maju mundurnya umat Islam sangat bergantung dan berkaitan dengan kegiatan dakwah yang dilakukannya, karena itu al-Qur’an dalam menyebut kegiatan dakwah dengan Absanu Qaula. Dengan kata lain bisa disimpulkan bahwa dakwah menempati posisi yang tinggi dan mulia dalam kemajuan agama Islam, tidak dapat dibayangkan apabila kegiatan dakwah mengalami kelumpuhan yang disebabkan oleh berbagai faktor terlebih pada era globalisasi sekarang ini, dimana berbagai informasi masuk begitu cepat dan instan yang tidak dapat dibendung lagi.[2]

Kesadaran untuk terus menjalankan aktivitas dakwah oleh kaum muslimin ini dilandasi dari firman Allah Swt :

Artinya : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran [3]: 104)

Menurut tafsir kemenag Republik Indonesia, bahwa untuk mencapai maksud tersebut perlu adanya segolongan umat Islam yang bergerak dalam bidang dakwah yang selalu memberi peringatan, bilamana tampak gejala-gejala perpecahan dan penyelewengan. Karena itu pada ayat ini diperintahkan agar di antara umat Islam ada segolongan umat yang terlatih di bidang dakwah yang dengan tegas menyerukan kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf (baik) dan mencegah dari yang mungkar (maksiat). Dengan demikian umat Islam akan terpelihara dari perpecahan dan infiltrasi pihak manapun.

Menganjurkan berbuat kebaikan saja tidaklah cukup tetapi harus dibarengi dengan menghilangkan sifat-sifat yang buruk. Siapa saja yang ingin mencapai kemenangan, maka ia terlebih dahulu harus mengetahui persyaratan dan taktik perjuangan untuk mencapainya, yaitu kemenangan tidak akan tercapai melainkan dengan kekuatan, dan kekuatan tidak akan terwujud melainkan dengan persatuan. Persatuan yang kukuh dan kuat tidak akan tercapai kecuali dengan sifat-sifat keutamaan. Tidak terpelihara keutamaan itu melainkan dengan terpeliharanya agama dan akhirnya tidak mungkin agama terpelihara melainkan dengan adanya dakwah. Maka kewajiban pertama umat Islam itu ialah menggiatkan dakwah agar agama dapat berkembang baik dan sempurna sehingga banyak pemeluknya. Dengan dorongan agama akan tercapailah bermacam-macam kebajikan sehingga terwujud persatuan yang kukuh kuat. Dari persatuan yang kukuh kuat tersebut akan timbullah kemampuan yang besar untuk mencapai kemenangan dalam setiap perjuangan. Mereka yang memenuhi syarat-syarat perjuangan itulah orang-orang yang sukses dan beruntung.[3]

Dari ayat diatas, ditegaskan bahwa dakwah adalah ajakan atau seruan kepada yang baik dan yang lebih baik. Dakwah mengandung ide tentang progresivitas, sebuah proses terus-menerus menuju kepada yang baik dan yang lebih baik dalam mewujudkan tujuan dakwah tersebut. Dalam praktiknya, dakwah merupakan kegiatan untuk mentransformasikan nilai-nilai agama yang mempunyai arti penting dan berperan langsung dalam pembentukan persepsi umat tentang berbagai nilai kehidupan.[4]

Dengan demikian, seruan dan ajakan seperti tersebut diatas memiliki dasar dan sesuai dengan tuntunan syariat Islam, sejalan dengan firman Allah Swt :

Artinya : “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah Swt, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?” dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai Keuntungan yang besar. dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, Maka mohonlah perlindungan kepada Allah Swt. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Fushilat [41] : 33-36) – (Bersambung).

Daftar Pustaka:

[1]     M. Munir, Metode Dakwah, Kencana, Jakarta, 2009, hlm 3.

[2]     Ibid, hlm. 5

[3]    https://quran.kemenag.go.id/index.php/sura/3/104 di akses pada 10 Desember 2019, jam 11.56 WIB.

[4]    Wahyu Ilahi, Komunikasi Dakwah, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2010, hlm. 17.

SebelumnyaMembereskan Pikiran dan Hati di Bulan Suci (2) SesudahnyaKonsepsi ZIS Sebagai Manifestasi Dakwah (2)

Tausiyah Lainnya