SEKILAS INFO
  • 2 bulan yang lalu / Surat Edaran Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 & Transformasi Pemulihan Ekonomi Kota Bekasi Nomor 443.1/795/SET.COVID19.
  • 2 bulan yang lalu / Maka sejak 19 Agustus 2021 Masjid Agung AL BARKAH Kota Bekasi, di BUKA untuk Jama’ah UMUM.
  • 2 bulan yang lalu / Pemerintah Kota Bekasi dan DKM Masjid Agung Al Barkah Kota Bekasi mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriah 1443H dan HUT RI ke-76.
WAKTU :

Konsepsi ZIS Sebagai Manifestasi Dakwah (2)

Terbit 1 Mei 2021 | Oleh : | Kategori : Komunikasi Islam
Konsepsi ZIS Sebagai Manifestasi Dakwah (2)

Oleh karena itu, pengembangan dakwah yang efektif mengacu pada masyarakat untuk meningkatkan kualitas ke-Islamannya, sekaligus juga kualitas hidupnya. Dakwah tidak hanya mensyaratkan hal-hal yang religius Islami, namun juga menumbuhkan etos kerja.[1] Dorongan Islam tentang etos kerja bukan sekedar memenuhi naluriah insaniah, mengumpulkan dan menimbun harta sebanyak-banyaknya, melainkan dimaksudkan sebagai sarana dan prasarana meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan serta meningkatkan pengabdian kepada Allah Swt.

Menurut Wardi Bachtiar dalam bukunya dikemukakan bahwa pada dasarnya berdakwah merupakan tugas pokok para Rasul yang diutus untuk berdakwah kepada kaumnya agar mereka beriman kepada Allah Swt, akan tetapi dengan berlandaskan kepada Al-Quran dan anjuran nabi Muhammad kepada umat Islam di dalam beberapa Hadis tentang keharusan untuk berdakwah, maka dakwah juga diwajibkan kepada seluruh umat Islam. Mengenai hukum dakwah masih terjadi permasalahan apakah jenis kewajiban dakwah ditujukan kepada setiap individu atau kepada sekelompok manusia, perbedaan pendapat tersebut disebabkan perbedaan pemahaman terhadap dalil naqli (Al-Quran dan Hadis), dan karena kondisi pengetahuan dan kemampuan manusia yang beragam dalam memahami Alquran.[2]

Menurut Asmuni Syukir, hukum dakwah adalah wajib bagi setiap muslim, karena hukum Islam tidak mengharuskan umat Islam untuk selalu memperoleh hasil yang maksimal, akan tetapi usaha yang diharuskan maksimal sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki, sedangkan berhasil atau tidak dakwah merupakan urusan Allah Swt. Berkaitan dengan kesuksesan dalam berdakwah, seorang Da’i tidak dituntut untuk memperoleh hasil yang maksimal, akan tetapi dikatakan berhasil dalam dakwahnya apabila dai tersebut sudah mengerahkan segala kemampuan  usahanya  untuk  memperoleh  kesuksesan  dalam  dakwahnya.  Karena sejatinya seseorang berhasil dalam dakwahnya merupakan urusan Allah Swt.[3]

Selain di dalam Al-quran, dasar kewajiban dakwah juga banyak dianjurkan oleh nabi Muhammad Saw, di dalam beberapa Hadis. Dengan demikian, hukum berdakwah adalah wajib bagi seluruh umat Islam yang mampu melaksanakannya, dan wajib hukumnya untuk berusaha memperoleh kemampuan untuk berdakwah, sehingga dalam berdakwah untuk mencapai keberhasilan juga diharuskan untuk mempunyai strategi baik berupa metode atau model yang digunakan agar dakwah dapat diterima oleh masyarakat.[4]

Dilihat dari targetnya, fungsi dakwah dapat dibedakan menjadi empat, yaitu i’tiyadi, muharrik, iqaf dan takhfif. Dalam Kamus al-Munawwir, istilah i’tiyadi berasal dari kata aa’da yang artinya kembali, kebiasaan atau adat. Sedangkan kata muharriq merupakan bentuk masdar dari kata harraka yang artinya bergerak atau penggerak. Kemudian kata iqaf berasal dari waqafa yang artinya berhenti atau penghentian, dan kata takhfif berasal dari kata khaffafa yang artinya meringankan. Dari istilah tersebut di atas, fungsi dakwah yang dimaksud adalah sebagai berikut :

  1. I’tiyadi, yaitu ketika target dakwah adalah normalisasi tata nilai yang telah ada, hidup dan berkembang di suatu  komunitas  agar  tata nilai  itu  kembali  kepada
  2. yang sesuai dengan nilai-nilai keislaman.
  3. Muharriq, ketika target dakwah berupa peningkatan tatanan sosial yang sebenar-
  4. nya sudah Islami agar semakin meningkat lagi nilai-nilai keislamannya hidup dalam komunitas tersebut.
  5. Iqaf, ketika dakwah adalah upaya preventif dengan sejumlah petunjuk-petunjuk dan peringatan-peringatan yang relevan agar komunitas tersebut tidak terjerumus ke dalam tatanan yang tidak Islami atau kurang mencerminkan nilai-nilai keislaman.
  6. Takhfif, ketika target dakwah adalah upaya membantu untuk ikut meringankan beban penderitaan akibat problem-problem yang secara riil telah mempersulit kehidupan komunitas.[5]

Sementara itu, zakat adalah ibadah maaliyah ijtima’iyyah yang memiliki posisi sangat penting, strategis, dan menentukan baik dilihat dari sisi ajaran Islam maupun dari sisi pembangunan kesejahteraan umat. Sebagai suatu ibadah pokok, zakat termasuk salah satu rukun (rukun ketiga) dari rukun Islam yang lima, sebagaimana yang diungkapkan dalam berbagai Hadis Nabi, sehingga keberadaannya dianggap sebagai ma’luum min ad-diin bi adh-dharuurah atau diketahui secara otomatis adanya dan merupakan bagian mutlak dari keislaman seseorang. Di dalam al-Qur’an terdapat dua puluh tujuh ayat yang mensejajarkan kewajiban shalat dengan kewajiban zakat dalam berbagai bentuk kata.[6] Salah satu ayat al-Qur’an yang menyejajarkan zakat dengan ibadah shalat ada dalam Surat al-Baqarah (2) : 43.

Artinya : “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.”

Tafsir dari ayat diatas, menurut tafsir Kemenag, bahwa terdapat tiga macam perintah Allah yang ditujukan kepada Bani Israil, ialah :

  1. Agar mereka melaksanakan shalat setiap waktu dengan cara yang sebaik-baiknya, melengkapi segala syarat dan rukunnya, serta menjaga waktu-waktunya yang telah ditentukan, menghadapkan seluruh hati kepada Allah dengan tulus dan khusyuk, sesuai dengan syariat yang dibawa Nabi Musa a.s;
  2. Agar mereka menunaikan zakat, karena zakat merupakan salah satu pernyataan syukur kepada Allah atas nikmat yang telah dilimpahkan-Nya, dan menumbuh-kan hubungan yang erat antarsesama manusia, dan menyucikan hati, karena zakat itu merupakan pengorbanan harta benda untuk membantu fakir miskin, dan dengan zakat itu pula dapat dilakukan kerja sama dan saling membantu dalam masyarakat, di mana orang-orang yang miskin memerlukan bantuan dari yang kaya dan sebaliknya, yang kaya memerlukan pertolongan orang-orang yang miskin. Dalam hubungan ini Rasulullah saw. telah bersabda : “Orang Mukmin terhadap Mukmin yang lain tak ubahnya seperti sebuah bangunan, masing-masing bagiannya saling menguatkan.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim);
  3. Agar mereka rukuk bersama orang-orang yang rukuk. Maksudnya ialah agar mereka masuk Islam dan melaksanakan salat berjamaah seperti halnya kaum Muslimin. Dalam hubungan ini Rasulullah telah bersabda: “Shalat berjamaah itu lebih utama dengan dua pulu tujuh derajat daripada salat seorang diri”. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim) Kita telah mengetahui, bahwa salat menurut agama Islam terdiri dari bermacam-macam gerakan jasmaniyah, seperti rukuk, sujud, iktidal, dan sebagainya. Tetapi pada akhir ayat ini salat tersebut hanya diungkapkan dengan kata-kata “rukuk.” Hal ini dimaksudkan untuk menekankan agar mereka menunaikan salat dengan benar seperti yang dikehendaki syariat Islam seperti yang diajarkan Rasulullah saw, bukan salat menurut cara mereka dahulu, yaitu salat tanpa rukuk.[7]

Hal ini menegaskan adanya kaitan antara ibadah Shalat dan Zakat. Jika shalat berdimensi vertikal (ketuhanan), maka zakat merupakan ibadah yang berdimensi horizontal (kemanusiaan). Di dalam al-Qur’an terdapat pula berbagai ayat yang memuji orang-orang yang secara sungguh-sungguh menunaikannya, dan sebaliknya memberikan ancaman bagi orang yang sengaja meninggalkannya. Zakat bukan sekadar kebaikan hati orang-orang kaya terhadap orang miskin, tetapi zakat adalah hak Tuhan dan hak orang miskin yang terdapat dalam harta orang kaya sehingga zakat wajib dikeluarkan. Demikian kuatnya pengaruh zakat, sampai Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq bertekad memerangi orang-orang yang shalat, tetapi tidak mau mengeluarkan zakat di masa pemerintahannya.

Selanjutnya, secara demografik dan kultural, bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Muslim Indonesia, sebenarnya memiliki potensi strategis yang layak dikembangkan menjadi salah satu instrumen pemerataan pendapatan, yakni institusi zakat, infak, dan shodaqoh (ZIS). Karena secara demografik, mayoritas penduduk Indonesia adalah beragama Islam, dan secara kultural, kewajiban zakat, dorongan berinfak, dan bershodaqoh di jalan Allah telah mengakar kuat dalam tradisi kehidupan masyarakat Muslim.[8]

Mayoritas penduduk Indonesia, secara ideal, bisa terlibat dalam mekanisme pengelolaan zakat. Apabila hal itu bisa terlaksana dalam aktivitas sehari-hari umat Islam, maka secara hipotetik, zakat berpotensi mempengaruhi aktivitas ekonomi nasional, termasuk di dalamnya adalah penguatan ekonomi nasional. Secara substantif, zakat, infak, dan shodaqoh adalah bagian dari mekanisme keagamaan yang intinya semangat pemerataan pendapatan. Dan zakat diambil dari harta orang berkelebihan dan disalurkan kepada orang yang kekurangan.

Zakat tidak dimaksudkan untuk memiskinkan orang kaya, juga tidak untuk melecehkan jerih payah orang kaya. Hal ini disebabkan karena zakat diambil dari sebagian kecil hartanya dengan beberapa kriteria tertentu yang wajib dizakati. Oleh karena itu, alokasi dana zakat tidak bisa diberikan secara sembarangan dan hanya dapat disalurkan kepada kelompok masyarakat tertentu.

Seperti halnya dengan zakat, walaupun infak dan shodaqoh tidak wajib, tetapi infak dan shodaqoh merupakan media pemerataan pendapatan bagi ummat Islam yang sangat dianjurkan. Dengan kata lain, infak dan shodaqoh merupakan media untuk memperbaiki taraf kehidupan, di samping adanya zakat yang diwajibkan kepada orang Islam yang mampu. Wallahu A’lamu Bishshawwab.

Daftar Pustaka :

[1]    M. Munir, Metode Dakwah, Op. Cit., hlm. 233

[2]     Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997, hlm. 34.

[3]     Asmuni Syukur, Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam, Al-Ikhlas, Surabaya, 1983, hlm. 27.

[4]     Rasyidah, Ilmu Dakwah, Bandar Publishing, Banda Aceh, 2009, hlm. 65-70.

[5]     Muhammad Sulthon, Desain Ilmu Dakwah; Kajian Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis, Pustaka Belajar, Yogyakarta, 2003, hlm.140-141.

[6]     Ibid., hlm. 90.

[7]    https://quran.kemenag.go.id/index.php/sura/2 , diakses pada tanggal, 15 Desember 2019, jam 10.40 WIB.

[8]     Chaider Bamualim, Revitalisasi Filantropi Islam: Studi Kasus Lembaga Zakat dan Wakaf di Indonesia, Pusat Bahasa dan Budaya UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2005, hlm.2.

SebelumnyaKonsepsi ZIS Sebagai Manifestasi Dakwah (1) SesudahnyaGuru & Kualitas Pendidikan Islam (1)

Tausiyah Lainnya