SEKILAS INFO
  • 2 bulan yang lalu / Surat Edaran Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 & Transformasi Pemulihan Ekonomi Kota Bekasi Nomor 443.1/795/SET.COVID19.
  • 2 bulan yang lalu / Maka sejak 19 Agustus 2021 Masjid Agung AL BARKAH Kota Bekasi, di BUKA untuk Jama’ah UMUM.
  • 2 bulan yang lalu / Pemerintah Kota Bekasi dan DKM Masjid Agung Al Barkah Kota Bekasi mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriah 1443H dan HUT RI ke-76.
WAKTU :

Membereskan Pikiran dan Hati di Bulan Suci (1)

Terbit 25 April 2021 | Oleh : adminalbarkah | Kategori : Filsafat Islam
Membereskan Pikiran dan Hati di Bulan Suci (1)

MENJALANI Ramadhan 1442H Hijriah ini, kita dituntut untuk membereskan fikiran dan hati, agar kelak ketika kita melepas Ramadhan nanti, kita siap menjalani hidup ini dengan fikiran yang jernah dan hati yang damai. Karena, esensi dari Ramadhan adalah mendidik pikiran dan hati kita, agar tetap Hanif, Marwah dan Istiqomah dalam menyempurnakan berbagai ikhtiar.

Sebagian filosof menyatakan, bahwa hati nurani adalah kemampuan manusia untuk melihat ke dalam dirinya, dan membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Lepas dari segala kekurangan dan cacatnya, manusia merupakan mahluk yang mampu menentukan apa yang harus, yang baik, dilakukan, dan membuat keputusan berdasarkan pertimbangannya tersebut.

Melatih dan mengembangkan kepekaan hati nurani merupakan bagian dari keutamaan moral yang dianggap luhur oleh berbagai filsuf di dalam sejarah. Salah satunya adalah filsuf Eropa yang bernama Bonaventura. Ia berpendapat, bahwa hati nurani manusia terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah bagian dari hati nurani yang secara alamiah bisa sampai pada kebenaran-kebenaran dasar dalam hidup manusia, seperti kebenaran yang terkandung pada perintah-perintah moral dasar, sebagai contoh, menghormati orang tua, menghargai sesama, dan tidak menyakiti mahluk hidup lainnya.

Setiap orang bisa sepakat tentang hal ini, karena hal ini tertanam jauh di dalam diri manusia. Bahkan manusia-manusia yang sudah melakukan tindakan ‘korup’ sekalipun, tetap bisa mengenali, bahwa contoh tadi, adalah perintah-perintah moral yang layak untuk dipatuhi.

Bagian kedua dari hati nurani adalah kemampuannya untuk menerapkan perintah-perintah moral di atas di dalam konteks kehidupan sehari-hari manusia. Bagian kedua ini juga merupakan bagian yang alamiah dari hati nurani manusia, walaupun bisa mengalami kesalahan, karena berbagai hal, seperti kurangnya informasi, ataupun kesalahan penarikan kesimpulan di dalam berpikir. Dua hal inilah yang menurut Bonaventura menjadi awal dari kejahatan.

Oleh karena itu, bertitik tolak dari dua bagian hati nurani tersebut, Bonaventura menegaskan, bahwa manusia perlu terus untuk mengembangkan kepekaan hati nuraninya, terutama bagian kedua dari hati nuraninya, supaya ia tidak terjebak pada perilaku-perilaku jahat. Ia perlu untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, sebelum membuat keputusan-keputusan penting dalam hidupnya, apalagi yang secara langsung berdampak pada orang lain.

Sementara itu, kita perlu melatih diri untuk mampu berpikir logis, kritis, reflektif, dan analitis di dalam memahami hidup dan kehidupan di dunia ini, sehingga tidak terjebak dalam penarikan kesimpulan yang salah. Dalam arti ini menurut Bonaventura, bahwa hati nurani kita sebagai manusia merupakan sesuatu yang dinamis, yang bisa berkembang seturut dengan upaya dari manusia itu sendiri.

Yang perlu kita ingat, bahwa pendidikan hati nurani merupakan pelengkap yang amat penting bagi pendidikan akal budi. Karena. mendidik hati merupakan proses mengembangkan kebijaksanaan batin. Sebagaimana yang di katakan oleh pakar pendidikan Amerika John Slon Dickey, bahwa “Tujuan akhir pendidikan adalah untuk melihat orang-orang menjadi utuh, baik dalam kompetensi maupun dalam hati nurani mereka, karena menciptakan kekuatan kompetensi tanpa menciptakan arah yang benar untuk mengarahkan pemanfaatan kekuatan itu merupakan pendidikan yang buruk, lagi pula kompetensi pada akhirnya akan berpisah dari hati nurani”. (Bersambung)

Sumber : Diakses melalui  : < https://www.kompasiana.com/wiradharmapurwalodra/5940aa2fff44bc655e063fc2/membereskan-fikiran-dan-hati-di-bulan-suci?page=all > pada 25 April 2021.

SebelumnyaMenyegerakan Berbuka Puasa dan Mengakhirkan Sahur SesudahnyaMembereskan Pikiran dan Hati di Bulan Suci (2)

Tausiyah Lainnya