SEKILAS INFO
  • 2 bulan yang lalu / Surat Edaran Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 & Transformasi Pemulihan Ekonomi Kota Bekasi Nomor 443.1/795/SET.COVID19.
  • 2 bulan yang lalu / Maka sejak 19 Agustus 2021 Masjid Agung AL BARKAH Kota Bekasi, di BUKA untuk Jama’ah UMUM.
  • 2 bulan yang lalu / Pemerintah Kota Bekasi dan DKM Masjid Agung Al Barkah Kota Bekasi mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriah 1443H dan HUT RI ke-76.
WAKTU :

Mengenal Lebih Dekat Zakat Profesi

Terbit 20 Mei 2021 | Oleh : | Kategori : Fiqih & Hukum Islam
Mengenal Lebih Dekat Zakat Profesi

Oleh. Ismail Hasyim, SH.I, M.Sos.

Pengertian zakat profesi pada hakekatnya merupakan zakat yang di keluarkan dari penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan atau suatu profesi tertentu. Seperti halnya, pekerjaan yang menghasilkan uang, baik itu pekerjaan yang dikerjakan sendiri tanpa tergantung dengan orang lain, berkat kecekatan tangan ataupun pemikiran (professional). Atau juga pekerjaan yang dikerjakan seseorang untuk pihak ketiga, antara lain : pemerintah, perusahaan, atau perorangan dengan memperoleh upah yang diberikan, melalui keterampilan tangannya, proses berfikir, ataupun keduanya. Dimana, penghasilan dari pekerjaan tersebut, akan menimbulkan gaji, upah, atau honorarium. Semua itu, jika sudah mencapai nisab dan haulnya, maka pendapatan yang dihasilkan tersebut wajib di keluarkan zakatnya.[1]

Perlu diingat, bahwa pembahasan mengenai tipe zakat profesi tidak dapat dijumpai dengan tingkat kedetilan yang setara dengan tipe zakat yang lain. Tetapi, bukan berarti pendapatan dari hasil profesi terbebas dari zakat, karena zakat secara hakikatnya adalah pungutan terhadap kekayaan golongan yang memiliki kelebihan harta untuk diberikan kepada golongan yang membutuhkan.

Setiap penghasilan, apapun jenis pekerjaan yang menyebabkan timbulnya penghasilan tersebut diharuskan membayar zakat, apabila telah mencapai nisabnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt, dalam Q.S al-Baqarah ayat 267, yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji.”

Secara hukum Islam, zakat profesi ditujukan untuk membersihkan dan mengembang-kan harta, serta menolong para mustahik. Zakat profesi juga mencerminkan rasa keadilan yang merupakan ciri utama ajaran Islam, yaitu kewajiban zakat pada semua penghasilan dan pendapatan seorang Muslim.

Selanjutnya, zakat profesi memang tidak dikenal dalam khasanah keilmuan Islam, sedangkan hasil profesi yang berupa harta dapat dikategorikan ke dalam zakat harta (simpanan/kekayaan). Dengan demikian hasil profesi seseorang, jika telah memenuhi ketentuan wajib zakat maka wajib baginya untuk menunaikan zakat.

Harta yang dimiliki seorang Muslim terdapat hak Allah disana. Hak inilah yang dikenal dengan istilah zakat yang diperuntukkan bagi delapan golongan, sebagaimana ditegaskan dalam QS. at-Taubah ayat 60, yang artinya :

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.

Pada hakekatnya, zakat bukan merupakan hak mustahik tetapi merupakan hak Allah, sehingga menjadi kewajiban mutlak bagi manusia yang telah melampaui batas minimal kekayaan wajib zakat (nisab) untuk menunaikannya. Seseorang yang tidak menunaikan kewajiban zakat berarti tidak menunaikan hak Allah sehingga Allah SWT berhak memberi mereka balasan.[2]

Ibadah zakat merupakan ibadah yang sangat unik. Selain berdimensi vertikal, yaitu sebagai pengabdian kepada Allah Swt (hablun minalLah), zakat juga memiliki dimensi horizontal (hablun minannas), guna membantu meringankan beban hidup kaum dhuafa. Zakat profesi akan mengangkat kemuliaan kaum muslimin melaui pengentasan kemiskinan, seperti pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, di mana tidak ditemukan lagi seorang pun yang mau menerima zakat.

Sudah menjadi budaya populer, ditengah modernitas gaya hidup dan berkembangnya profesi-profesi dalam pekerjaan, maka semangat baru dalam dunia perzakatan saat ini antara lain, tersosialisasinya instrument zakat profesi, di samping zakat fitrah dan zakat maal (zakat harta). Mungkin, sebagian kecil masyarakat masih mempertanyakan legalitas zakat profesi tersebut. Mereka masih beranggapan bahwa zakat profesi tidak pernah dikenal sebelumnya di dalam syariat Islam dan merupakan hal baru yang diada-adakan. Sedangkan mayoritas ulama kontemporer telah sepakat akan legalitas zakat profesi tersebut, sebagai perkembangan sebuah peradaban, sebagaimana  zakat profesi yang ada saatini telah ditetapkan berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan Keputusan Nomor 3 tahun 2003.

 Zakat profesi sangat sesuai dengan prinsip keadilan dalam Islam. Jika seorang petani yang bekerja sangat keras untuk mewujudkan hasil pertaniannya, setiap panen tiba harus mengeluarkan zakat pertanian sebesar 5 hingga 10 %, sementara kaum professional yang memiliki penghasilan lebih besar dari petani tersebut tidak dikenai zakat.[3] Oleh karena itu, dari aspek sosial, zakat profesi sejatinya sangat berperan bagi perwujudan keadilan sosial. Selain pahalanya disebutkan secara tegas di dalam al Qur’an, bahwa setiap harta yang kita keluarkan akan mendapat balasan sebesar 700 kali lipat, entah dengan harta yang sama maupun dalam bentuk yang berbeda yang tidak kita sadari.

Pada akhirnya, dengan berzakat kita telah berperan secara aktif dalam memerangi kemiskinan dan keuntungan lain bagi orang yang berzakat, pada saat tingkat kemiskinan menurun maka tingkat kriminalitas juga semakin menurun sehingga lingkungan kerja dan usaha semakin kondusif. Wallahul muwaffiq. Wallahu A’lamu Bishshawwab.

[1]     Yusuf Qardawi, Hukum Zakat, (Bogor : Litera Antar Nusa, 2007), hlm. 459

[2]     Drs. K.H Didin Hafiuddin MSc, Zakat Infaq, Sedekah, (Jakarta :Gema Insani Press, 1999), hlm. 23.

[3]     Ibid., hlm. 25.

SebelumnyaMenyadari 'Idul Fitri' Dengan Sadar ?!!

Tausiyah Lainnya