SEKILAS INFO
  • 2 bulan yang lalu / Surat Edaran Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 & Transformasi Pemulihan Ekonomi Kota Bekasi Nomor 443.1/795/SET.COVID19.
  • 2 bulan yang lalu / Maka sejak 19 Agustus 2021 Masjid Agung AL BARKAH Kota Bekasi, di BUKA untuk Jama’ah UMUM.
  • 2 bulan yang lalu / Pemerintah Kota Bekasi dan DKM Masjid Agung Al Barkah Kota Bekasi mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriah 1443H dan HUT RI ke-76.
WAKTU :

Menyadari ‘Idul Fitri’ Dengan Sadar ?!!

Terbit 20 Mei 2021 | Oleh : adminalbarkah | Kategori : Filsafat Islam
Menyadari 'Idul Fitri' Dengan Sadar ?!!

Kesenangan dan suka-cita menyambut Idul Fitri tidak hanya berarti, sebagai kembalinya kebebasan kita untuk makan, minum dan perilaku melampui batas wajar, setelah satu bulan penuh berpuasa dan mengendalikan nafsu kita. Akan tetapi pada hari yang fitri ini, hakikatnya kita harus kembali pada fitrah awal penciptaan kita sebagai manusia, dan menyadari betul batas-batas norma yang berakal-sehat. Kita sudah saatnya memahami dengan benar, apa filosofi dan makna hari yang fitri menurut tinjauan syari’at.

Ternyata, apa yang menjadi tujuan Idul Fitri diatas seakan hanya pepesan kosong, tanpa makna dan tanpa proses penyadaran. Idul Fitri atawa lebaran tidak lebih atawa identik dengan kegiatan piknik, jalan-jalan dan pergi ke tempat-tempat wisata. Hal ini terjadi di luar prediksi semua pihak. Ketika mudik dibatasi, maka mall dan tempat-tempat wisata membludak tanpa bisa dibendung, kecuali pemerintah hadir untuk menutup lokasi wista tersebut.

Bagi mereka yang menyadarinya, kata fitri seakar dengan kata fitrah atau Futuur yang berarti memperbaharui makanan. Sedangkan, dalam akhlak disebut fitrah yang artinya suci. Dimana pada saat Ramadhan umat muslim berusaha membersihkan diri dari dosa, yaitu kita berusaha untuk bisa mengoreksi diri agar Allah Swt membersihkannya dari dosa. Jadi, kata fitrah bisa berarti lembut, suci, bersih. Pernyataan dari al Quran dan Hadits adalah, bahwa “Setiap yang terlahir, lahir dengan membawa fitrahnya”. Seperti juga yang tertuang dalam Firman Allah: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Ar Rum: 30)

Kesadaran kita dalam memasuki hari yang fitri bukan hanya berarti memakai pakaian yang baik, memakan makanan yang baik, namun lebih daripada itu adalah memenuhi segala Asas Fitrah kemanusiaan kita, dengan cara memenuhi kewajiban syari’at yang baik dan benar. Yakni, semakin medekatkan diri kita kepada Allah Swt, dan meninggalkan perilaku yang kurang memiliki kepatutan dan akhlaq yang tidak luhur,

Jika pada waktu Ramadhan, kita dilatih untuk kembali pada tuntunan syari’at, maka pada bulan Syawal manusia dituntut untuk mengimple-mentasikan hasil latihan kita tersebut. Tentu, hasil dari implementasi tersebut harusnya lebih baik dari pada proses berlatih yang dilaksanakan, sehingga perbuatan yang bernilai syari’at tercermin dalam perilaku baik sehari-hari, bukan malah memaki-maki dan berkata-kata kotor kepada orang lain, ketika terusik kenyamanannya.

Selanjutnya, kata ‘fitrah’ juga menunjuk pada sesuatu yang baik, suci, bersih, lembut, dan ramah. Oleh karena itu, selepas puasa Ramadhan harus kita menjadi tambah lembut, tambah ramah, dan tentunya tambah baik. Bukannya berlaku kasar, nekat atawa menang-menangan dengan orang lain, seakan tak ada hukum positip yang berlaku di negeri ini.

Dalam al-Qur’an ada disebut mengenai kata ‘Ied, yaitu ketika al-Qur’an mengisahkan mengenai Nabi Isa as., sebagai berikut : “Isa putera Maryam berdoa : “Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama” (Al-Maaidah:114).

Kata ‘ied dalam konteks ayat di atas diartikan sebagai hari raya, hari yang berbeda dari hari-hari biasa. Arti ‘Ied yang lebih jelas dapat dilihat dari perkataan Ali ibn Abi Thalib ra yang diucapkan juga oleh Hasan al-Bishri, berikut ini : “Setiap hari di mana tidak dilakukan maksiat kepada Allah Swt maka hari itu adalah hari ‘Ied”.

Maksud dari perkataan Ali ibn Abi Thalib ra di atas adalah, bahwa hari ‘Ied adalah hari di mana manusia tidak melakukan maksiat kepada Allah Swt. Hal ini lebih luas cakupannya bukan hanya di hari raya Idul Fitri, tetapi juga di hari-hari lain. Ketika dalam sehari-hari kita tidak berbuat maksiat kepada Allah Swt, maka jiwa kita tetap pada kondisi ‘ied, yaitu terbebas dari dosa atau terjaga kesuciannya. Adapun pengertian maksiat itu sendiri terbagi menjadi : 1). Maksiat aktif, yakni dengan melanggar larangan Allah Swt; 2). Maksiat pasif, yakni lalai dari melakukan kewajiban dan perintah Allah Swt. Jadi, kata ‘Ied, juga bermakna saling memaafkan secara tulus, saling menyayangi dan saling menghormati. Jika kita lalai dalam memaafkan orang lain, menyayangi, dan menghormati satu sama lain, maka ia telah bermaksiat kepada Allah Swt.

Idul Fitri dalam hadis lain dimaknai sebagai hari “kembali pada kesucian”, bahkan disebut kembali suci, sebagaimana pada saat bayi dikeluarkan dari rahim ibunya : “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mewajibkan bagi kalian berpuasa di bulan Ramadhan, dan mensunatkan shalat malam, maka barangsiapa yang berpuasa dengan penuh keimanan dan berserah diri, akan terbebas dosa-dosanya bagaikan bayi yang dilahirkan dari rahim ibunya” (Diriwayatkan oleh Thabrani)

Segala dosa yang menjadi kotoran jiwa dan badan akan menjadi suci kembali. Inilah keistimewaan utama puasa sebagai zakat badan, sebagai pembersih jiwa yang bersifat non-fisik. Karena itu, pengertian ‘ied dan makna maksiat di atas, adalah momentum pembinaan karakter individual yang berefek pada karakter sosial.

Kita semua menyadari, bahwa masyarakat dibentuk oleh individu-individu. Basis masyarakat Muslim adalah individu. Individu mencerminkan kehidupan sosial. Jika individu sebagai anggota dari masyarakat sosialnya baik, maka masyarakatnya pun akan baik. Jika tidak, bayangkan bagaimana ruwednya arus balik mudik yang terlanjur dilarang itu dan kacaunya masyarakat yang berbondong-bondong berwisata tanpa memenuhi protokol kesehatan ?!!

Kita sebenarnya juga memahami, bahwa puasa kita kemaren jika dilihat dari dhahir-nya merupakan ibadah individual, karena hanya kita sajalah yang tahu, apakah kita melaksanakan puasa atau tidak. Tetapi jika digali lebih jauh, karena masyarakat dibentuk oleh individu, maka puasa yang tujuannya melatih kharakter individu muslim, jelas memiliki output yang nyata bagi kehidupan sosial yang lebih luas.

Pada akhirnya, seseorang yang berhasil dalam puasanya dapat dilihat dari kesehariannya, setelah menjalani puasa pada Ramadhan kemaren. Karena, Ramadhan adalah semacam sekolah ruhani, implementasi nyatanya adalah pada hari-hari setelahnya, di bulan syawal ini. Jika dalam puasa kita kemaren mampu mengendalikan segala bentuk emosi dan tidak berkata-kata kasar, maka kita akan mampu melakukan hal itu di hari-hari yang lain. Inilah indikator utama dalam membentuk karakter kita secara sosial !!?. Wallahu A’lamu Bishshawwab.

Bekasi, 16 Nei 2021.

Tayangan perdana di : <https://www.kompasiana.com/antakusuma/60a14bc3d541df51394fdcc4/menyadari-idul-fitri-dengan-sadar/>

SebelumnyaMakna Zakat Fitrah SesudahnyaMengenal Lebih Dekat Zakat Profesi

Tausiyah Lainnya