SEKILAS INFO
  • 2 bulan yang lalu / Surat Edaran Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 & Transformasi Pemulihan Ekonomi Kota Bekasi Nomor 443.1/795/SET.COVID19.
  • 2 bulan yang lalu / Maka sejak 19 Agustus 2021 Masjid Agung AL BARKAH Kota Bekasi, di BUKA untuk Jama’ah UMUM.
  • 2 bulan yang lalu / Pemerintah Kota Bekasi dan DKM Masjid Agung Al Barkah Kota Bekasi mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriah 1443H dan HUT RI ke-76.
WAKTU :

Menyegerakan Berbuka Puasa dan Mengakhirkan Sahur

Terbit 24 April 2021 | Oleh : adminalbarkah | Kategori : Fiqih & Hukum Islam
Menyegerakan Berbuka Puasa dan Mengakhirkan Sahur

Tanya : Kita tahu bahwa menyegerakan berbuka puasa (ta’jil) dan memperlambat sahur adalah anjuran agama. Pertanyaannya, apakah kita harus menunggu selesainya azan Magrib baru kemudian berbuka puasa, ataukah kesegeraan itu mengundang kita untuk berbuka, walau azan yang dikumandangkan belum selesai?

Selain itu, apakah begitu datang waktu imsak kita harus segera berhenti makan, atau masih bolehkah kita makan sampai beberapa detik sebelum masuk waktu Subuh?

Jawab : Memang benar, Rasul saw, bersabda, “Allah berfirman, ‘Yang paling Kucintai dari hamba-hamba-Ku (yang berpuasa) adalah yang paling cepat berbuka puasa’” (HR. At-Tirmidzi).

Begitu matahari terbenam, seseorang yang berpuasa dianjurkan untuk berbuka puasa dengan memakan beberapa biji kurma atau meneguk air tanpa harus menunggu selesainya azan.

Sebab, waktu berpuasa adalah sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari dan bukan selesainya azan. Dengan demikian, jika seseorang merasa yakin bahwa matahari telah terbenam, maka ia hendaknya segera berbuka puasa. Bahkan, sang muazin pun sebaiknya meneguk air sebelum mengumandangkan azan.

Memang, boleh jadi, ada sebagian orang yang menduga bahwa berbuka puasa hendaknya dilakukan setelah azan selesai dengan alasan bahwa disunnahkan bagi orang yang mendengar azan untuk mengulangi kalimat-kalimat yang dikumandangkan oleh muazin.

Jika seorang muazin mengucapkan kalimat, “Allahu Akbar, Allahu Akbar”, maka orang yang mendengarnya pun mengucapkan kalimat yang sama. Demikian pula halnya dengan kalimat azan lainnya. Hanya saja, ketika muazin mengucapkan kalimat, “Hayya ‘ala ash-shalah” dan “Hayya ‘ala al-falah”, setiap orang yang mendengarnya mengucapkan kalimat, “La haula wa la quwwata illa billah”.

Sekali lagi, boleh jadi, ada yang menduga bahwa karena mengulangi dan menyambut kalimat-kalimat azan, hukumnya sunnah, maka berbuka berpuasa hendaknya dilakukan setelah azan selesai dikumandangkan. Tetapi, pandangan ini tidak sepenuhnya benar. Apalagi dalam mazhab Hanbali, ditegaskan bahwa anjuran mengulangi dan menyambut kalimat-kalimat azan hanyalah ditujukan kepada mereka yang diajak untuk menunaikan shalat, dengan azan itu. Bukti menunjukkan bahwa Rasulullah Saw berbuka puasa (ta’jil) terlebih dahulu, baru kemudian mengerjakan shalat.

Amalan beliau itu adalah menifestasi dari menyegerakan berbuka puasa (ta’jil). Selain itu, dalam pandangan beberapa mazhab, ditegaskan bahwa menyambut kalimat-kalimat azan tidak dianjurkan bagi mereka yang sedang sibuk dengan persoalan-persoalan keagamaan dan bahkan tidak dianjurkan bagi mereka yang sedang makan. Karena itu, Anda tidak harus menunggu selesainya azan, baru kemudian berbuka. Tetapi, berbukalah dengan beberapa biji kurma dan tegukan air, atau makanlah manisan, dan baru kemudian Anda mengerjakan shalat. Setelah selesai shalat, Anda dapat melanjutkan makan.

Imsak juga demikian. Kita dianjurkan untuk memperlambatnya. Hanya saja, karena kekhawatiran jangan sampai fajar telah menyingsing dan seseorang masih makan, maka imsak disyariatkan. Namun, bila Anda dapat yakin bahwa Subuh belum tiba, Anda masih bisa makan, minum, atau merokok sampai beberapa detik sebelum datangnya Subuh.

Pada masa Rasulullah Saw azan dikumandangkan dua kali, pertama oleh Bilal bin Rabah, dan kedua oleh Ibnu Ummi Maktum. Rasul Saw bersabda, “Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan dan saat itu masih malam. Maka, makan dan minumlah sampai Ummi al-Maktum mengumandangkan azan. Dia seorang buta dan baru mengumandangkan azan bila diberitahukan kepadanya, ‘Sudah Subuh, sudah Subuh’” (Hadits ini diriwayatkan penyusun al-Kutub as-Sittah [Enam Kitab Hadis Sahih], kecuali Abu Dawud).

Sekali lagi Anda masih boleh makan setelah waktu imsak, selama belum masuk waktu Subuh. Namun, berhati-hatilah dan jangan terlalu mengandalkan jam atau suara muazin. Sebab, dikhawatirkan jam Anda  atau muazinnya terlambat. Wallahu A’lamu Bishshawwab.

Sumber : Diakses melalui <https://mjscolombo.com/menyegerakan-berbuka-puasa-dan-mengakhirkan-sahur/>, yang merujuk pada M. Quraish Shihab, M. Quraish Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui, cet. xiv (Jakarta: Lentera Hati, 2008), hlm. 96-98.

SebelumnyaPahala Ibadah Puasa SesudahnyaMembereskan Pikiran dan Hati di Bulan Suci (1)

Tausiyah Lainnya