SEKILAS INFO
  • 2 bulan yang lalu / Surat Edaran Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 & Transformasi Pemulihan Ekonomi Kota Bekasi Nomor 443.1/795/SET.COVID19.
  • 2 bulan yang lalu / Maka sejak 19 Agustus 2021 Masjid Agung AL BARKAH Kota Bekasi, di BUKA untuk Jama’ah UMUM.
  • 2 bulan yang lalu / Pemerintah Kota Bekasi dan DKM Masjid Agung Al Barkah Kota Bekasi mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriah 1443H dan HUT RI ke-76.
WAKTU :

Metode Penafsiran Al Qur’an

Terbit 2 Mei 2021 | Oleh : | Kategori : Kajian Qur'an & Hadits

Tafsir Al qur’an sebagai usaha untuk memahami dan menerangkan maksud dan kandungan ayat-ayat suci mengalami perkembangan yang cukup bervariasi. Corak penafsiran al-Qur’an adalah hal yang tak dapat dihindari. Berbicara tentang karakteristik dan corak sebuah tafsir, di antara para ulama membuat pemetaan dan kategorisasi yang berbeda-beda. Ada yang menyusun bentuk pemetaannya dengan tiga arah, yakni; pertama, metode (misalnya; metode ayat antar ayat, ayat dengan hadits, ayat dengan kisah israiliyyat), kedua, teknik penyajian (misalnya; teknik runtut dan topical), dan ketiga, pendekatan (misalnya; fiqhi, falsafi, shufi dan lain-lain)[1].

Kemudian ada juga yang memetakannyaa dengan dua bagian. Pertama, komponen eksternal yang terdiri dari dua bagian: (1) jati diri Al-Qur’an (sejarah al-Qur’an, sebab nuzul, qira’at, nasikhmansukh, munasabah, dan lain-lain). (2) kepribadian mufassir (akidah yang benar, ikhlas, netral, sadar, dan lain-lain). Selanjutnya bagian kedua, komponen internal, yaitu unsur-unsur yang terlibat langsung dalam proses penafsiran. Dalam hal ini, ada tiga unsur yang digunakan yaitu : metode penafsiran, corak penafsiran, dan bentuk penafsiran.

M.Quraish Shihab,[2] mengatakan bahwa corak penafsiran yang dikenal selama ini, antara lain : a) Corak sastra bahasa, b). Corak filsafat dan teologi, c). Corak penafsiran ilmiah, d). Corak fiqih atau hukum, e). Corak tasawuf, f). Bermula pada masa Syaikh Muhammad Abduh (1849-1905), corak-corak tersebut mulai berkembang dan perhatian banyak tertuju kepada corak sastra budaya kemasyarakatan. Yakni suatu corak tafsir yang menjelaskan petunjuk-petunjuk ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Dengan mengemukakan petunjuk-petunjuk tersebut dalam bahasa yang mudah dimengerti tapi indah didengar. Sebagai bandingan, Ahmad As, Shouwy, dkk., menyatakan bahwa secara umum pendekatan yang sering dipakai oleh para mufassir adalah: a). Bahasa, b). Konteks antara kata dan ayat, dan c). Sifat penemuan ilmiah.

Penafsiran Al Qur’an, secara garis besar dapat dibagi dalam 4 (empat) macam metode,[3]  dengan sudut pandang tertentu : [4]

  1. Metode Penafsiran ditinjau dari sumber penafsirannya, metode ini terbagi menjadi tiga macam, yakni : metode bi al-ma’thur, bi al-riwayah, bi al-manqul, tafsir bi-ra’y / bi al-dirayah / bi al ma’qul dan tafsir bi al-izdiwaj (campuran).
  2. Metode penafsiran ditinjau dari cara penjelasannya. Metode ini dibagi menjadi dua macam, yakni metode deskriptif (al-bayani) dan Metode tafsir perbandingan (comparatif, al maqarin).
  3. Motode penafsiran ditinjau dari keleluasan penjelasan. Metode ini dibagi menjadi dua macam, yakni metode global (al-ijmali) dan metode detail (al-ithnaby).
  4. Metode penafsiran ditinjau dari aspek sasaran dan sistematika ayat-ayat yang ditafsirkan. Metode penafsiran ini terbagi menjadi dua macam, yakni : metode analisis (al-Tahlili) dan metode tematik (al-Maudhui).

Pada akhirnya, kita akan memahami bahwa corak penafsiran Qur’an tidak terlepas dari perbedaan, kecenderungan, interest, motivasi mufassir, perbedaan misi yang diemban, perbedaan kedalaman (capacity) dan ragam ilmu yang dikuasai, perbedaan masa, lingkungan serta perbedaan situasi dan kondisi, dan sebagainya. Kesemuanya menimbulkan berbagai corak penafsiran yang berkembang menjadi aliran yang bermacam-macam dengan metode-metode yang berbeda-beda. Wallahu ‘lamu Bishshawwab.

Pustaka :

[1]     M.Alfatih Suryadilaga dkk, Metodologi Ilmu Tafsir, Yogyakarta : TERAS, 2010, hlm. 12

[2]     M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, Bandung : Mizan, 1992, hlm. 72.

[3]     Abdul Jalal, Urgensi Tafsir Madhui Pada Masa Kini, Jakarta : Kalam Mulia, 1990, hlm. 64-71.

[4]     M. Ridlwan Nasir, Teknik Pengembangan Metode Tafsir Muqarin;Dalam Perspektif Pemahaman Al Qur’an, Surabaya : IAIN Sunan Ampel, 1997, Hlm. 5-8, Naskah Pidato Guru Besar ilmu Tafsir Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel

SebelumnyaGuru & Kualitas Pendidikan Islam (2) SesudahnyaDefinisi Tafsir

Tausiyah Lainnya