SEKILAS INFO
  • 2 bulan yang lalu / Surat Edaran Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 & Transformasi Pemulihan Ekonomi Kota Bekasi Nomor 443.1/795/SET.COVID19.
  • 2 bulan yang lalu / Maka sejak 19 Agustus 2021 Masjid Agung AL BARKAH Kota Bekasi, di BUKA untuk Jama’ah UMUM.
  • 2 bulan yang lalu / Pemerintah Kota Bekasi dan DKM Masjid Agung Al Barkah Kota Bekasi mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriah 1443H dan HUT RI ke-76.
WAKTU :

Sejarah Tafsir Abad Modern

Terbit 4 Mei 2021 | Oleh : | Kategori : Kajian Qur'an & Hadits
Sejarah Tafsir Abad Modern

Akulturasi budaya pada abad pertengahan cukup dirasa memberi pengaruh pada penafsiran al-Qur’an abad itu. Demikian pula pada masa modern, kehadiran kolonialisme dan pengaruh pemikiran barat pada abad 18-19 M sangat mempengaruhi para mufassir era ini. Perkembangan ilmu pengetahuan diduga kuat menjadi faktor utama penafsir dalam memberi respon. Ciri berpikir rasional yang menjadi identitas era modern kemudian menjadi pijakan awal para penafsir. Mereka umumnya meyakini bahwa umat Islam belum memahami spirit al-Qur’an, karenanya mereka gagal menangkap spirit rasional al-Qur’an.

Atas dasar pemikiran yang bersifat rasionalistik, kebanyakan dari pemikir Muslim modern menafsirkan al-Qur’an dengan penalaran rasional, dengan jargon penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an, atau kembali pada al-Qur’an. Kemudian mereka menentang legenda, ide-ide primitif, fantasi, magis dan tahayyul.[1]

Menurut Baljon dalam bukunya yang berjudul Modern Muslim Koran Interpretation, mengatakan bahwa yang apa yang disebut tafsir modern adalah usaha yang dilakukan para mufassir dalam menafsirkan ayat guna menyesuaikan dengan tuntunan zaman. Karenanya segala pemikiran yang terkandung dalam al-Qur’an segera dirasakan membutuhkan penafsiran ulang. Lebih lanjut Baljon menambahkan bahwa tuntutan ini dirasakan perlu akibat persentuhan dengan peradaban asing kian lebih intensif.[2]

Salah satu mufassir era ini adalah Muhammad Abduh (1849-1905), ia adalah tokoh Islam yang terkenal. Abduh mulai menulis tafsir al-Qur’an atas saran muridnya, Rasyid Ridha.[3] Meskipun pada awalnya ia merasa keberatan, akhirnya ia menyetujui juga. Uraian Abduh atas al-Qur’an mendapatkan perhatian dari salah seorang orientalis, J. Jomier. Menurutnya analisis yang dilakukan Abduh cukup mendalam serta hal yang berbeda dari ulasan Abduh adalah keinginannya yang nyata untuk memberikan ajaran moral dari sebuah ayat.[4]

Selain Abduh, kaum modernis Arab lainnya juga banyak yang menyuguhkan tafsir yang sama moderatnya, atau sama konservatifnya. Sampai kemudian muncul metode dan cara baru dalam penafsiran al-Qur’an. Adalah Thanthâwi Jauhari (w. 1940) yang tidak terlalu banyak memberi komentar, tetapi ulasan-ulasanya dalam tafsir al-Qur’an dapat dijadikan pegangan ilmu Biologi atau ilmu pengetahuan lainnya bagi masyarakat. Sehingga kitab tafsirnya, Al-Jawâhir fi al-Tafsir digadang-gadang sebagai tafsir bercorak ilmi (saintifik).[5]

Ahmad Mustafa ibn Muhammad ibn Abdul Mun’în al-Marâghi juga mencatatkan namanya sebagai deretan dari mufassir modern dengan karya tafsirnya, Tafsîr al-Qur’ân al-Karîm yang sering dikenal dengan sebutan Tafsîr al-Marâghi. Ia lahir 1883 dan wafat pada 1952. Ia menulis tafsirnya selama sepuluh tahun, sejak tahun 1940-1950.[6] Dalam muqaddimah tafsirnya, ia mengemukakan alasan menulis tafsir tersebut. Ia merasa ikut bertanggung jawab membei solusi terhadap problem keummatan yang terjadi di masyarakat dengan berpegang teguh pada al-Qur’an.[7] Di samping itu, muncul juga Sayyid Quthb dengan tafsirnya Fi zhilali al-Qur’an dan Aisyah Abdurrahman Bintu Syathi’ dengan Tafsir al-Bayani li al-Qur’ani al-Karim.

Di Indonesia juga muncul beberapa mufassir dan kitab tafsirnya. Antara lain: Tafsîr al-Qur’ân al-Karîm karya Mahmud Yunus (1899)dan Kasim Bakri, Tafsîr al-Furqân karya Ahmad Hasan (w. 1887-1958), Tafsîr al-Qur’ân karya Zainuddin Hamidi dan Fakhruddin HS, Tafsîr al-Nûr al-Majîd karya Hasbi al-Siddiqi (1904-1975), Tafsîr al-Azhâr karya Buya Hamka (1908-1981)[8], dan Tafsir al-Mishbah karya M. Quraish Shihab. Titik perbedaan tafsir modern dengan sebelumnya adalah bahwa penafsiran abad ke-19 menonjolkan corak reformis-rasional, sains (tafsir ilmi) dan sastra.[9]

Perkembangan selanjutnya, muncul kajian baru dalam ilmu tafsir, Hermeneutik dan Semantik. Maka tidak menutup kemungkinan pada era mendatang akan ada lagi berbagai metode penafsiran untuk mengungkap makna-makna al-Qur’an. Wallahu A’lamu Bishshawwab.

Ranah Pustaka :

[1]     Tim penyusun, Ensiklopedia Tematis Dunia Islam: Pemikiran dan Peradaban, (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve), hlm. 43.

[2]     J.M.S. Baljon, Tafsir Qur’an Muslim Modern, pent A. Ni’amullah Mu’iz, Jakarta : Pustaka Firdaus, 1991, hlm. 2.

[3]     Tafsîr al-Manâr karya Muhammad Abdul awalnya merupakan tema-tema ceramah yang ia adakan di Universitas al-Azhar. Kemudian diterbitkan dalam bentuk jurnal setiap bulan, dengan pimpinan redaksinya Rasyid Ridha. Maka penyempurnaan tafsir tersebut dilakukan oleh Ridha.

[4]     J.M.S. Baljon, op. cit., hlm. 8.

[5]     Gamal al-Banna, Evolusi Tafsir : Dari Zaman Klasik Hingga Zaman Modern, Pent. Novriantoni Kahar, Jakarta : Qisthi Press, 2004, hlm. 176.

[6]     Saiful Amin Ghafur, op.cit., hlm. 151-153.

[7]     Ahmad Mustafa al-Marâghi, op. cit., hlm. 3.

[8]     Hasbi al-Siddiqi, Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an-Tafsir, Jakarta : PT Bulan Bintang, 2000, hlm 237.

[9]     Jane Dammen Mc Auliffe (editor), Encylcopaedia of the Qur’an, Brill : Leiden, 2001, vol. 2,  hlm. 126-132.

SebelumnyaSejarah Tafsir Abad Pertengahan SesudahnyaMakna Malam Lailatur Qadar

Tausiyah Lainnya