SEKILAS INFO
  • 2 bulan yang lalu / Surat Edaran Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 & Transformasi Pemulihan Ekonomi Kota Bekasi Nomor 443.1/795/SET.COVID19.
  • 2 bulan yang lalu / Maka sejak 19 Agustus 2021 Masjid Agung AL BARKAH Kota Bekasi, di BUKA untuk Jama’ah UMUM.
  • 2 bulan yang lalu / Pemerintah Kota Bekasi dan DKM Masjid Agung Al Barkah Kota Bekasi mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriah 1443H dan HUT RI ke-76.
WAKTU :

Sejarah Tafsir Abad Pertengahan

Terbit 4 Mei 2021 | Oleh : | Kategori : Kajian Qur'an & Hadits
Sejarah Tafsir Abad Pertengahan

Perkembangan tafsir abad pertengahan dimulai sejak abad ke-9 M hingga abad ke-19 M. Pada abad ini, perkembangan ilmu pengetahuan berada pada masa keemasan (the golden age).[1] Perkembangan penafsiran tidak lepas dari perkembangan ilmu pengetahuan pada saat tafsir tersebut ditulis. Tafsir kemudian sarat dengan disiplin-disiplin ilmu yang mengetarinya dan kecenderungan toelogis, terlebih bagi sang mufassir. Al-Qur’an pun seringkali dijadikan untuk melegitimasi kepentingan-kepentingan mazhab/aliran tertentu.

Diantara kitab-kitab tafsir “akbar” yang muncul pada era keemasan Islam/abad pertengahan antara lain: Jamî’ al-Bayân an Ta’wîl al-Qur’ân karya Ibn Jarîr al-Thabarî (w. 923 M/310 H); al-Kasysyâf an Haqâ’iq al-Qur’ân karya Abû al-Qasîm Mahmûd ibn Umar al-Zamakhsyari (w. 1144 M/528 H); Mafâtih al-Ghaib karya Fakhruddîn ar-Râzi (w. 1209 M/605 H) dan Tafsîr Jalâlaîn karya Jalâluddîn Mahallî (w. 1459 M) dan Jalâluddîn al-Suyûti (w. 1505 M).

Pada perkembangan selanjutnya muncul tafsir karya Ibn Arabi (638 H) yang juga kerap mendapat kritikan. Hal ini disebabkan Ibn Arabi menafsirkan al-Qur’an untuk mendukung pahamnya, wahdatul wujud.[2] Kelahiran Imâduddîn Ismail ibn Umar ibn Katsîr pada 700 H/1300 M, juga memberi sumbangan bagi munculnya tafsir abad ini. Kitab Tafsîr al-Qur’ân al-Karîm yang terdiri sepuluh jilid menjadi karya termasyhur selain kitab-kitab lainnya yang ia tulis.[3] Pada abad ini muncul pula tafsir Jamî’ al-Ahkâm al-Qur’ân karya Abdullah al-Qurtubî (671 H). Banyak kalangan ulama menganggap bahwa ia merupakan ulama Maliki, dan tafsirnya bercorak fiqh, namun al-Qurtubî tidak membatasi pada ulasan mengenai ayat-ayat hukum saja. Lebih dari itu, ia menafsirkan al-Qur’an secara keseluruhan. Ulasannya biasa diawali dengan menjelaskan asbâb nuzûl, macam qira’at, i’rab dan menjelaskan lafaz yang gharib.[4]

Selain nama mufassir di atas, muncul pula Alî ibn Muhammad al-Baghdadî (678-741 H) dengan karya tafsirnya Tafsîr Lubâb al-Ta’wîl fî Ma’âni Tanzîl, atau yang sering disebut dengan Tafsir al-Khâzin. Sumber-sumber penafsiran dalam tafsir tersebut adalah bil ma’tsûr. Al-Khâzin menaruh perhatian cukup besar banyak terhadap kisah-kisah isrâiliyyât. Sehingga ada beberapa penafsirannya yang dianggap menyimpang oleh Husein al-Dzahabî.[5]

Pada tahun 754 H muncul tafsir Bahrul Muhît karya Ibn Abû Hayyân al-Andalusî. Dalam kitab tafsirnya yang terdiri delapan jilid, ia banyak mencurahkan perhatiannya dalam masalah I’rab dan Nahwu. Karena perhatian yang cukup besar dalam masalah Nahwu, banyak kalangan menyebut bahwa kitab ini lebih cocok disebut kitab Nahwu, bukan tafsir. Ia banyak mengutip pendapat Zamakhsyari dalam hal ilmu Nahwu. Namun Abû Hayyan seringkali tidak sependapat dengan Zamakhsyari, terlebih mengenai paham ke-Mu’tazilah-annya.[6]

Selain nama-nama di atas, masih banyak lagi mufassir kitab tafsir yang muncul pada abad pertengahan ini. Masing-masing memiliki karakter yang menjadi khas penulis tafsir tersebut. Sebagaimana yang penulis utarakan di atas, bahwa pada abad pertengahan terjadi akulturasi budaya karena penyebaran Islam ke penjuru dunia, maka hal ini turut menimbulkan perbedaan penafsiran yang didasari perbedaan mazhab dan tempat. (Berlanjut ke Sejarah tafsir Abad Modern).

 Ranah Pustaka :

[1]     Saiful Amin Ghafur, Profil Mufassir al-Qur’an, Yogyakarta : Pustaka Insan Madani, 2008, hlm. 25.

[2]     Abdul Mustaqim, Epistemologi Tafsir Kontemporer, Yogyakarta : LKiS, 2011, hlm. 47.

[3]     Saiful Amin Ghafur, op. cit., hlm. 105.

[4]     Manna al-Khallil al-Qaththan, Mabâhis fî Ulûm al-Qur’ân, Riyadh : Mansyurat al-‘ashr al-hadits, 1973, hlm. 380.

[5]     Muhammad Husain al-Dzahabî, Al-Tafsîr wa al-Mufassirûn, Kairo : Dâr al-Hadîtsah, 2005, juz 1, hlm. 265-267.

[6]     Manna al-Khallil al-Qaththan, .. Op.Cit., hlm. 504.

SebelumnyaSejarah Tafsir Masa Klasik SesudahnyaSejarah Tafsir Abad Modern

Tausiyah Lainnya